Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

[Cerpen] Secangkir Kopi Untuk Hati yang Patah

pic: https://i.pinimg.com/originals/9c/08/34/9c0834ec7709ae372c10e19b43ac18d2.jpg

“Kau baik-baik saja, Marissa?”
Marissa mendongak ke arah suara berasal. Dengan mata merah dan air mata yang meleleh keluar dari sudut mata, bergantian ia menatap empat wajah yang duduk di dekatnya. Jelas, wajah-wajah yang dipenuhi kekhawatiran. Setelah beberapa detik bergeming, Marissa menjawab, “Bagaimana mungkin aku baik-baik saja? Aku baru saja gagal menikah.”
“Tetapi kau tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, Mar.” Amanda meraih tangan Marissa, menggenggamnya erat-erat. “Hidup terus berjalan.”
“Kau harus melupakan Miko, Mar,” tambah Nathan. “Aku yakin kau bisa melupakannya.”
Marissa tidak menjawab dan terus menangis. Sementara Daniel dan Deva bergeming.
“Kalian bisa berbicara seperti itu karena kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan.”
Amanda agak terkesiap. Seketika, ia melepaskan genggamannya dan menjauhkan tangannya dari tangan Marissa. Ia menghela napas pelan, lalu menatap Nathan sambil mengedikkan bahu. Nathan membalasnya dengan gelengan pelan
***
Mereka. Adalah manusia yang awalnya tidak saling mengenal dan dipertemukan karena kegilaan mereka terhadap kopi. Sudah dua tahun terakhir mereka berkeliling dunia untuk mencipipi kopi-kopi terbaik dunia. Dan kali ini, agenda mereka adalah keliling Indonesia.
Bali. Menjadi tujuan utama mereka.

[Cerpen] Tak Perlu Seorang yang Sempurna Untuk Cinta yang Sempurna

Tak Perlu Seorang yang Sempurna Untuk Cinta yang Sempurna


Menurutku, cinta itu adalah pada saat kamu mau menerima kekurangan pasanganmu. Melengkapi kekurangan itu dengan kasih tulus yang kaupunya. Kalau kau hanya melihat pasanganmu dari kelebihannya saja, kau tidak akan pernah siap jika kelak hal terburuk menimpa pasanganmu. Aku tidak bermaksud untuk menakut-nakuti. Aku hanya ingin mengingatkan sebuah ungkapan klise bahwa cinta seharusnya menerima apa adanya.
“Selamat pagi, sayang. Hari ini aku masih beruntung karena kau masih ada di sebelahku.”
Itu yang setiap pagi diucapkan pria brengsek ini. Ya, si brengsek ini adalah suamiku. Kenapa aku menyebut suamiku sendiri dengan sebutan pria brengsek? Ah, seharusnya aku tak perlu lagi mengungkit masa lalu. Bukankah masa lalu cukup untuk dikenang saja? Namun, ini perlu untuk kau ketahui.
Dulu, masa-masa kami berpacaran, dari kuliah hingga kerja, Kevin adalah pria paling brengsek yang pernah kukenal. Bayangkan saja. Masih berstatus pacarku saja, dia berani main gila dengan beberapa wanita. Monica, Clarissa, Bella, Julia, Amanda, Flora, Fauna.. aku tahu nama-nama itu saat kucek ponselnya diam-diam. SMS, Chating, penuh kata-kata mesra yang tak pernah Kevin ucapkan padaku. Kalau mengingat masa-masa itu, aku ingin sekali menampar wajahnya di depan semua orang. Namun, akhirnya aku tetap bungkam dan menahan segala cemburu dan amarah yang bergejolak di dalam dada. Aku memang benci dia, tapi sialnya, rasa cintaku lebih besar padanya.
Kau boleh menyebutku gila atau wanita bodoh yang mau saja bertahan kendati tahu bahwa pacarnya selingkuh. Sahabatku, Anya, bahkan tak terhitung lagi berapa kali dia memberi kotbah untukku. Dia bilang, “Putusin dia. Cari cowok lain, Ladya. Lo itu cantik. Jangan takut nggak laku!”
Jawabanku tetap sama, “Nggak bisa. Gue cinta Kevin.”

Galuh Mas Menjadi Destinasi Liburan Akhir Pekan

Galuh Mas menjadi Destinasi Liburan Akhir Pekan (Pic : @galuhmaskarawang  https://www.instagram.com/p/BgU65lxnEkN/?taken-by=galuhm...