![]() |
| pic: https://i.pinimg.com/originals/9c/08/34/9c0834ec7709ae372c10e19b43ac18d2.jpg |
“Kau baik-baik saja, Marissa?”
Marissa
mendongak ke arah suara berasal. Dengan mata merah dan air mata yang meleleh
keluar dari sudut mata, bergantian ia menatap empat wajah yang duduk di
dekatnya. Jelas, wajah-wajah yang dipenuhi kekhawatiran. Setelah beberapa detik
bergeming, Marissa menjawab, “Bagaimana mungkin aku baik-baik saja? Aku baru
saja gagal menikah.”
“Tetapi
kau tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, Mar.” Amanda meraih tangan Marissa,
menggenggamnya erat-erat. “Hidup terus berjalan.”
“Kau
harus melupakan Miko, Mar,” tambah Nathan. “Aku yakin kau bisa melupakannya.”
Marissa
tidak menjawab dan terus menangis. Sementara Daniel dan Deva bergeming.
“Kalian
bisa berbicara seperti itu karena kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan.”
Amanda
agak terkesiap. Seketika, ia melepaskan genggamannya dan menjauhkan tangannya
dari tangan Marissa. Ia menghela napas pelan, lalu menatap Nathan sambil
mengedikkan bahu. Nathan membalasnya dengan gelengan pelan
***
Mereka.
Adalah manusia yang awalnya tidak saling mengenal dan dipertemukan karena
kegilaan mereka terhadap kopi. Sudah dua tahun terakhir mereka berkeliling
dunia untuk mencipipi kopi-kopi terbaik dunia. Dan kali ini, agenda mereka
adalah keliling Indonesia.
Bali.
Menjadi tujuan utama mereka.
